Gangguan Lambung

 
 
  

 

MASALAH LAMBUNG MASALAH SEDERHANA YANG DIRUWETKAN OLEH SALAH KAPRAH  

 

 

 

Problem lambung adalah masalah yang sangat populer dalam masyarakat. Saking populernya, obat pereda asam lambung selalu muncul dalam peringkat teratas jenis obat yang laku keras di pasaran. Tapi namanya juga populer, simpang siur informasi biasa terjadi di sana. Keruwetan info itu menghasilkan fenomena lain, salah kaprah. Yang seakan membuat ‘bisa sembuh total’ dari masalah lambung itu seperti sulit terjadi.

 

Para penderita umumnya terjebak pada kalimat klise “Penyakit Lambung tidak bisa disembuhkan tapi bisa dikendalikan”. Caranya? Ya misalnya dengan terus menerus minum antasida, obat penurun produksi asam lambung. Sesaat masalah seakan teratasi, tapi tanpa disadari tindakan tersebut sebenarnya melahirkan masalah sangat serius untuk kesehatan secara general di masa depan 

 

 

 

JENIS GANGGUAN LAMBUNG 

 

Untuk bisa terlepas dari beragam kerancuan salah kaprah dalam memahami masalah kesehatan lambung, kita harus mengenal gambaran garis besar jenis gangguan lambung itu seperti apa dulu? 

 

1. GASTRITIS  

 

Gastritis adalah sebuah kondisi ketika lambung mengalami peradangan akibat rusaknya lapisan pelindung dinding lambung. Selain rasa sakit pada perut bagian atas, gejala lainnya yang dapat terjadi adalah perasaan kembung, nafsu makan yang berkurang, mual dan muntah, hingga lebih cepat kenyang. Secara general gastritis menggambarkan masalah lambung secara umum 

 

 

 

 

2. GASTROPARESIS  

 

Gastroparesis adalah sebuah gangguan lambung yang terjadi akibat lambung mengalami perlambatan kerja saat mencerna. Hal ini disebabkan akibat otot dinding lambung tidak bekerja maksimal. Akibatnya, fungsi lambung untuk mencerna makanan pun terganggu.  

 

Gejala yang muncul pada seseorang yang mengidap gastroparesis adalah perut mudah mengalami kram, terlalu cepat merasa kenyang, hingga muntah setelah makan. 

 

 

 

3. DISPEPSIA 

 

Dispepsia adalah gejala yang umum muncul dikeluhkan pada perut bagian atas. Gejala yang muncul adalah rasa tidak nyaman, sensasi sebah, nyeri pada ulu hati ketika sehabis makan, mual, hingga mudah muntah. Masalah ini sering dikaitkan dengan luka hingga kanker lambung. 

 

 

 

4. ASAM LAMBUNG ABNORMAL  

 

Ini kondisi masalah lambung yang paling umum terjadi, tapi paling sering terlewatkan. Dianggap terlalu sederhana, tapi menjadi fundamental hampir semua masalah kesehatan lambung. 

 

Asam lambung bila diproduksi berlebihan atau kekurangan sangat mungkin menimbulkan masalah. Ini menjadi biang keladi utama dari mayoritas problem lambung. Sayangnya pemakaian obat penurun produksi asam lambung, yang bisa meredakan gejala, menjadi pilihan solusi jalan keluar utama. Kesalahan ini membuat banyak masalah lebih berat ke depan. 

 

  

 

5. LUKA LAMBUNG 

 

Biasa disebut sebagai Tukak Lambung adalah kondisi luka yang muncul pada dinding lambung akibat terkikisnya lapisan dinding lambung. Luka ini juga kerap muncul pada dinding bagian pertama usus kecil (duodenum) serta saluran penyambung kerongkongan dan lambung (esofagus). 

 

 

 

6. GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) 

 

GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan atau yang biasa disebut acid reflux. Ketika hal tersebut terjadi, akan ada sensasi rasa panas hingga bagian tengah dada yang bisa merembet sampai ke kerongkongan. Kadang disertai dengan rasa sakit, akibat asam lambung menimbulkan luka di sepanjang saluran esophagus, penyambung antara mulut dan kerongkongan. 

 

Asam lambung bisa merembet ke atas, akibat cincin pengatur keluar masuk makanan dalam lambung mengalami kerusakan. Pembahasan tentang GERD bisa dilihat di sini 

  

 

Gerd

 

 

 

 

KERANCUAN YANG LAHIRKAN SALAH KAPRAH 

 

Bisa dilihat, kecuali GERD, mayoritas masalah lambung itu sangat rancu dan mudah terjadi tumpang tindih antara satu sama lain. Kadang diagnosa satu masalah melahirkan kesimpulan yang sebenarnya membahas masalah lain. Misalnya problemnya adalah luka lambung tapi pembahasannya lebih ke sisi produksi asam lambung. Akibatnya bukan membahas kenapa lambungnya bisa luka? Jalan keluarnya malah mengkonsumsi obat pereda asam lambung agar lukanya tidak teriritasi. Padahal asam lambung punya banyak fungsi, diredakan secara semena-mena seperti itu jelas menghasilkan masalah baru. Sementara gaya hidup sebelum yang menyebabkan luka lambung tetap dilanjutkan tanpa koreksi lebih lanjut. 

 

Pembahasan luka lambung juga sering dikaitkan dengan keberadaaan bakter bernama Helicobacter Pylori. Bakteri -yang ditemukan oleh ilmuwan Barry Marshal dan Robin Warren- ini juga acap menimbulkan kerancuan yang membuat masalah menjadi berlarut dan melahirkan masalah baru. Konsumsi antibiotik tingkat tinggi dikombinasikan dengan pereda asam lambung seringkali hanya mengeliminir masalah di awal, lalu penderita mendapati dirinya menghadapi masalah lain yang lebih serius. Mulai dari mudah terserang penyakit, gangguan fungsi otot, kerapuhan tulang dini, gangguan pernafasan, masalah ginjal dan lain sebagainya. 

 

GERD sendiri, walau kondisinya tergolong unik, sering juga disalahkaprahkan sembarangan. Tanpa memeriksa fungsi cincin LES (Lower Esophageal Sphincter) seseorang sering divonis menderita GERD, hanya karena ia melaporkan masalah lambung yang berkepanjangan. Beberapa penderita bahkan dengan entengnya mengatakan bahwa mereka penderita GERD, walaupun tidak pernah mengeluhkan simptoms atau gejala yang serupa dengan penderita sesungguhnya. 

 

Bisa dilihat sekarang betapa salah kaprah itu melahirkan masalah yang membuat penanganan masalah lambung menjadi sangat ruwet dan seakan mustahil berujung pada solusi. 

 

 

 

MELURUSKAN SALAH KAPRAH  

 

Suka tidak suka kita harus memperbaiki dulu salah kaprah problematika lambung ini bila ingin mengurai benang keruwetan yang membuatnya (seakan) menjadi masalah yang tidak bisa diatasi. Jalan terbaik untuk memperbaiki adalah dengan mencoba memahami. Setelah paham, kita bisa berangsur memperbaiki lalu menemukan solusi. 

 

Sebagai contoh masalah GERD semisal, sebelum memeriksakan secara detil, jangan mudah mengkondisikan diri sebagai penderita. Pemeriksaan fungsi cincin LES, pengamatan endoskopi secara rinci terhadap kondisi saluran kerongkongan ke lambung, adalah cara yang umum dilakukan untuk mengetahui seseorang benar menderita GERD atau tidak? Dari sini kita bisa menghindari salah kaprah penanganan masalah lambung secara lebih efektif. 

 

Salah kaprah yang sering muncul adalah langkah penanggulangan. Akibat keliru memahami GERD dan Tukak Lambung, sering penderita dimintai menghindari beberapa makanan dengan alasan yang sebenarnya tidak berhubungan. Semisal “Penderita GERD dilarang makan cabai karena bisa membuat luka lambung menjadi parah”. Kalimat ini bila ditelaah oleh mereka yang paham bisa jadi sangat menggelikan, karena tidak berhubungan dan jelas tidak melahirkan solusi. Larangan konsumsi cabai bisa jadi tepat bila acuannya adalah mengiritasi luka lambung, atau misalnya memicu produksi asam lambung berlebihan. Tapi jelas tidak berhubungan dengan fungsi cincin LES yang menjadi biang keladi utama masalah. 

 

Meluruskan salah kaprah dengan pengetahuan yang benar adalah katalisator utama agar masalah tidak menjadi berlarut-larut dan bisa berujung pada lahirnya solusi. 

 

 

 

MEMPERBAIKI GAYA HIDUP (POLA MAKAN) 

 

Kesimpang siuran dan salah kaprah penderita masalah lambung acap membuat mereka alpa pada hal yang lebih fundamental, memperbaiki gaya hidup! Mayoritas manusia lahir dengan fungsi lambung normal. Gaya hidup mereka lah yang perlahan mendegenerasi kondisi lambung menjadi buruk. Gaya hidup tersebut bisa diterjemahkan dalam bentuk padanan kata “pola makan-minum”. 

 

Pola makan dan minum bisa menjadi penyebab utama semua masalah lambung bila dijabarkan satu persatu. Ambil contoh kebiasaan minum teh dan kopi, suatu ritual harian yang dianggap normal. Tapi sebenarnya punya peluang untuk menipiskan dinding lambung, yang lambat laun akan mudah menimbulkan luka. Sudah lumrah ditemukan, misalnya penderita lambung yang sibuk minum antibiotik mengatasi masalah helicobactor pylori dengan santai mengkonsumsi segelas kopi pagi untuk memulai hari. 

 

Menu makan yang sarat dengan protein hewani dalam bentuk padat atau cair, juga rentan menimbulkan masalah produksi asam lambung berlebihan. Bukannya mengubah dan mengkoreksi kebiasaan ini, solusi yang ditempuh malah minum obat pereda asam lambung. Akhirnya tubuh mengalami dua masalah beruntun sekaligus. 

 

Asam lambung ditekan sembarangan dan konsumsi sesuatu yang tidak ideal bagi sistem cerna. Jangan heran bila mereka dikejutkan munculnya penyakit baru yang lebih serius ke depannya. 

 

Berita baiknya mereka yang memperbaiki kebiasaan makan dengan menerapkan pola makan tepat, secara signifikan mendapati masalah lambung mereka pulih sendiri. Tidak hanya solusi sesaat tapi permanen. Itu sebabnya umum kita dengan pelaku yang menekuni serius pola makan sehat seperti Food Combining, Diet Alkaline, Plant Based Diet, Raw Food, dan Vegetarian terbebas dari masalah saat mereka melakukan perubahan secara konsisten dan penuh komitmen. 

 

Satu opsi alternatif untuk menyelesaikan masalah lambung tanpa direpotkan oleh keruwetan yang ditimbulkan dari akumulasi berbagai macam salah kaprah.