Hepatitis

 

 

Hepatitis A:

 

 

 

Hepatitis B :

 

 

HATI-HATI KALO CUKUR RAMBUT YA 

 

 

 

 

Kebanyakan infeksi virus hepatitis B kronis tidak memiliki gejala apa-apa, seringkali baru diketahui dari hasil pemeriksaan medical check-up. Namun, sekitar 30-40% infeksi virus hepatitis B kronis akan berkembang menjadi sirosis (pengerasan hati) dalam 10-15 tahun ke depan bila tidak mendapatkan terapi.

 

DOK, HBsAg SAYA KOK POSITIF…?

Belakangan, di praktek sore poliklinik penyakit dalam, semakin banyak pasien yang berkonsultasi hasil Medical Check-Up (MCU) dengan HBsAg yang positif. 

Hal ini menimbulkan banyak sekali pertanyaan dari pasien yang bersangkutan, dan juga tentunya dari perusahaan tempatnya bekerja. Informasi kesehatan tentang hal ini mudah sekali diperoleh di internet, tapi karena tidak menyeluruh, dan kadang bercampur mitos dan hoax, malah menimbulkan ketakutan berlebihan bagi pasien dan keluarganya.

Berikut penjelasan sekilas dalam bentuk tanya jawab, yang bisa dipelajari sebagai pedoman awal pasien-pasien dengan hasil HBsAg yang positif, juga untuk keluarga serta pihak perusahaan.

Bila dirasakan bermanfaat, mohon dishare ke keluarga/relasi yang sekiranya membutuhkan, semoga bisa menjadi amal jariyah bagi kita semua. 

 

 

 

APA YANG DIMAKSUD DENGAN HBsAg POSITIF? 

 

HBsAg adalah salah satu pemeriksaan laboratorium dari darah yang bertujuan mengetahui ada tidaknya virus hepatitis B di dalam tubuh seseorang. 

HBsAg merupakan singkatan dari Hepatitis B surface antigen, atau antigen yang ada di permukaan virus hepatitis B. 

Bila seseorang diperiksa darahnya dan hasil HBsAg-nya positif, berarti di dalam tubuhnya terdapat virus, atau dengan kata lain telah terinfeksi virus hepatitis B.

 

 

APA YANG DIMAKSUD DENGAN INFEKSI HEPATITIS B? 

 

Infeksi hepatitis B adalah masuknya masuknya virus hepatitis B ke dalam tubuh seseorang. Ada dua jenis infeksi akibat virus hepatitis B ini, yaitu infeksi yang bersifat akut dan yang bersifat kronis. 

Sebagian besar infeksi akut, terutama pada orang dewasa akan sembuh sendiri. 

Sebagian kecil berkembang menjadi infeksi kronis dan dapat menjadi masalah kesehatan yang serius di kemudian hari. 

 

 

 

 

APA YANG DIMAKSUD DENGAN HEPATITIS B KRONIS? 

 

Hepatitis B kronis adalah infeksi kronis (menahun, lebih dari 6 bulan) yang menyerang organ hati/liver, yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Sekali lagi, ada dua jenis infeksi, yaitu yang bersifat akut dan kronis. 

Yang sering menjadi masalah adalah infeksi hepatitis B yang sifatnya kronis. 

 

 

 

 

APA BEDANYA HEPATITIS B AKUT DENGAN KRONIS? 

 

1. Pada hepatitis B akut, penderita biasanya datang dengan keluhan mata dan badan kuning, berbagai keluhan sistemik dan saluran cerna, disertai gangguan fungsi liver yang cukup berat. 

Hepatitis B akut tidak berbahaya, sebagian besar penderita sembuh sendiri dan memiliki kekebalan jangka panjang terhadap infeksi virus hepatitis B. 

 

2. Sebagian kecil penderita yang terinfeksi akut tidak memberikan keluhan dan gejala yang bermakna, dan kemudian berkembang menjadi infeksi yang menahun. 

Pada hepatitis B kronis, karena sebagian besar pasien tidak memiliki gejala apa-apa, biasanya hal ini baru diketahui saat yang bersangkutan melakukan pemeriksaan Medical Check-Up (MCU). 

 

 

 

 

DULU MCU SAYA HASILNYA NEGATIF, KOK SEKARANG POSITIF? 

 

1. Infeksi hati akibat virus hepatitis B merupakan penyakit menular, yang bisa ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya. 

Penularan pada populasi berisiko tinggi adalah lewat jarum suntik dan hubungan seksual, misalnya pada iv drug user (pecandu narkoba suntik) atau lewat pekerja seksual komersial (PSK). 

 

2. Pada populasi normal, virus hepatitis B bisa menular lewat cukur rambut, perawatan kecantikan pada wanita (manicure, pedicure, pemasangan instrumen untuk kecantikan dll), pembuatan tato, tusuk jarum, transfusi darah dll; hanya bila menggunakan alat-alat yang tidak steril. Semua penularan di atas disebut sebagai horizontal transmission. 

Selain itu, hepatitis B juga bisa ditularkan dari ibu hamil ke janinnya pada saat proses persalinan (perinatal transmission). 

 

 

 

BAGAIMANA CUKUR RAMBUT BISA MENULARKAN HEPATITIS B? 

 

1. Di tempat cukur rambut yang biasa (bukan yang premium lho), biasanya digunakan pisau cukur atau silet yang tidak steril, dan hanya dibersihkan menggunakan kulit dan air hangat. 

Pisau cukur ini dipakai bergantian, dan tidak diganti secara teratur.

 

2. Misalkan orang yang dicukur sebelum kita juga penderita hepatitis B kronis, yang tidak mengetahui dirinya HBsAg positif karena memang tidak ada gejala apa-apa. 

Kadang pada saat merapikan pinggiran rambut dengan silet, ada sebagian pembuluh darah yang terbuka (biasanya terasa agak perih). Virus yang ada di darah orang tadi kemudian menempel di silet, dan tidak mati karena hanya dibersihkan dengan air hangat (bukan dengan alkohol). 

Bila silet yang sama digunakan untuk merapikan rambut orang sesudahnya, ada risiko virus hepatitis B tadi berpindah ke tubuhnya. 

 

3. Dalam setahun, minimal seseorang mencukur rambut 10-15 kali, sehingga risiko penularan dengan cara ini menjadi cukup tinggi.

Selain hepatitis B, HIV dan hepatitis C juga bisa ditularkan dengan cara ini.

Virus hepatitis B dikatakan 50-100 kali lebih menular dari virus hepatitis C dan virus HIV, dan karenanya angka kejadiannya juga jauh lebih tinggi.

Selain itu, virus ini bisa bertahan lebih dari 7 hari di luar tubuh dan masih tetap bisa menyebabkan infeksi.

 

  

 

BAGAIMANA DENGAN VIRUS HEPATITIS YANG LAIN?  

 

 

1. Yang paling penting dari kelompok virus hepatitis adalah virus hepatitis A, B, dan C. Virus hepatitis A termasuk yang juga sering dijumpai, ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi, kadang sering masuk berita karena menimbulkan wabah di sekolah atau pesantren berbagai kota.

Penyakit ini sebetulnya tidak mengancam jiwa, dan tidak pernah menjadi kronis.

Keluhannya mirip hepatitis B akut, dan juga membaik sendiri walau tidak diobati (self-limiting disease).

 

2. Infeksi virus hepatitis C mirip dengan hepatitis B kronis, sering tanpa gejala, dengan cara penularan yang serupa dengan virus hepatitis B. Penyakit hepatitis C juga berbahaya bila tidak terdeteksi dan tidak diobati dengan tuntas.

Virus hepatitis jenis lain, seperti hepatitis D dan E, atau beberapa virus lain dapat menimbulkan gangguan hati, tapi lebih jarang dijumpai. 

 

 

 

KENAPA HEPATITIS B INI PENTING? 

 

Hepatitis B merupakan salah satu penyebab penyakit sirosis yang paling penting di negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Sirosis sendiri merupakan penyakit hati atau liver stadium akhir, di mana semua penyakit liver kronis ujung-ujungnya akan menjadi sirosis.

 

Karena jauh lebih menular dibandingkan virus hepatitis C, angka kejadiannya di Indonesia dan negara-negara di Asia jauh lebih tinggi. Di negara barat, penyakit sirosis paling banyak terjadi karena konsumsi alkohol yang berlebihan. 

 

 

APAKAH SEMUA PENDERITA HEPATITIS B KRONIS AKAN MENJADI SIROSIS?
Untungnya tidak semua. 

 

 

Dari sekitar 100 orang penderita hepatitis B kronis, hanya sekitar 30-40 penderita saja (yang bila tidak diketahui dan diobati dengan baik) akan berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.

Sekitar 60-70% nya tidak sampai sirosis, tapi tetap menderita hepatitis B kronis sepanjang hidupnya.

Walaupun demikian, karena kita tidak tahu apakah seseorang masuk yang 30% atau yang 70%, setiap hasil HBsAg positif harus ditindaklanjuti dan dikelola dengan baik. 

 

 

 

SEPERTI APAKAH PENYAKIT SIROSIS ITU? 

 

Sirosis adalah penyakit liver kronis yang terjadi akibat adanya gangguan fungsi liver yang berat. 

Pada kondisi sirosis, liver pasien mengeras dan mengecil, dan fungsinya juga sangat terganggu. 

Pasien biasanya datang dengan mata dan badan yang kuning, perut membesar, tubuh yang bengkak-bengkak, dan banyak sekali keluhan lain.

Bila tidak dikelola dengan baik, sering terjadi komplikasi yang berat, seperti perdarahan saluran cerna (muntah darah dan BAB hitam), sampai penurunan kesadaran yang bisa mengancam jiwa.

Penyakit sirosis juga meningkatkan risiko terjadinya gagal hati dan kanker hati di kemudian hari. 

 

 

 

 

SEBERAPA SERING & PENTING-KAH HEPATITIS B INI?  

 

Menurut data tahun WHO yang terbaru, dari 50 penyebab kematian tersering di Indonesia, penyakit liver menempati urutan ke-8. Sebagian besar penyebabnya di Indonesia adalah infeksi hepatitis B kronis, yang bila dipisahkan saja masih menempati urutan ke-43.

Kanker liver, yang di negara-negara Asia penyebab utamanya adalah sirosis akibat virus hepatitis B, menempati penyebab kematian ke-21, dan merupakan jenis kanker tersering setelah kanker payudara, paru-paru, dan prostat di Indonesia.

 

 

 

KAPAN SESEORANG MULAI MENDERITA HEPATITIS B INI? BAGAIMANA DENGAN PASANGANNYA, APAKAH HARUS DIPERIKSA JUGA?

 

1. Hasil HbSAg positif tidak menunjukkan kapan seseorang terkena infeksi; dan karena penyakit ini bisa menular melalui hubungan suami istri, maka pasangannya pun harus diperiksa HBsAg-nya.

 

2. Bila hasil HBsAg-nya negatif, maka pasangannya harus diimunisasi, untuk memberikan kekebalan terhadap infeksi hepatitis B serta menurunkan risiko penularan.

Bila hasilnya positif juga, maka keduanya tentu saja harus mendapat pengobatan.

Bisa saja pasangannya yang baru diperiksa tadi malah ternyata yang menularkan infeksi hepatitis B ke istri atau suaminya.

Penting untuk diketahui, virus hepatitis B ini juga bisa ditularkan dari ibu ke anaknya pada saat proses persalinan (perinatal transmission).

 

3. Penularan dari ibu ke anaknya, walaupun lebih jarang, perlu mendapat perhatian khusus.

Dikatakan lebih dari 90% balita yang tertular hepatitis B pada saat persalinan akan berkembang menjadi hepatitis B kronis.

Adapun pada penderita yang tertular setelah usia 6 tahun, kurang dari 10% infeksinya akan menjadi kronis. 

 

 

 

BAGAIMANA DENGAN ANAK-ANAK DAN ANGGOTA KELUARGA LAIN, APAKAH HARUS DIPERIKSA JUGA? 

 

1. Bila memungkinkan, alangkah baiknya bila seluruh anggota keluarga (anak-anak, adik kakak, dan orang tua) juga diperiksa status hepatitis B-nya, apalagi bila suami dan istrinya sama-sama HBsAg positif.

 

2. Khusus untuk anak-anak, orangtuanya perlu berkonsultasi mengenai status imunisasinya ke dokter spesialis anak, dan menanyakan apakah perlu diimunisasi ulang agar terhindar dari kemungkinan penularan dari orang tuanya.

Hal ini penting mengingat kita tidak tahu kapan ayah atau ibunya mulai terinfeksi virus hepatitis B.

 

3. Hepatitis B tidak menular melalui alat makan dan minum, berpelukan, berciuman, bermain, berenang atau aktivitas lain bersama anak-anak.

Pisahkan saja alat cukur, sikat gigi, gunting kuku dan alat-alat lain yang memungkinkan penularan lewat darah.

Tiap anggota keluarga sebaiknya memiliki alat perawatan tubuh masing-masing, dan tidak memakainya secara bergantian. 

 

 

 

 

APAKAH PASIEN HBsAg POSITIF PERLU DIIMUNISASI?

 

Tidak perlu. Prinsip imunisasi adalah memasukkan virus atau komponen virus yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh orang yang sehat, agar merangsang sistem pertahanan tubuhnya membentuk antibodi terhadap virus tersebut.

Di dalam tubuh pasien dengan hepatitis B kronis, sudah terdapat virus hidup dalam jumlah yang banyak. Jadi imunisasi tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

 

 

 

JADI, SIAPA SAJA YANG PERLU DIIMUNISASI?

 

Pasangannya, dan semua anaknya. Imunisasi hepatitis B dilakukan tiga kali dalam 6 bulan, yaitu di bulan ke-1, ke-2, dan ke-6 untuk perlindungan selama 5 tahun.

Sebaiknya dilakukan imunisasi ulang setiap lima tahun. Biayanya sekitar Rp 150 ribu s/d 200 ribu tiap kali suntik, dan diberikan dengan cara menyuntikkan vaksin di lengan atas. 

 

 

 

HBsAg SAYA POSITIF, TAPI MENGAPA SAYA TIDAK MEMILIKI KELUHAN APA-APA? 

 

1. Kebanyakan pasien hepatitis B kronis memang tidak memiliki keluhan sama sekali. Bila pun ada keluhan tertentu, biasanya tidak berhubungan dengan HBsAg yang positif.

Kadang keluhan-keluhan sifatnya psikis, artinya tiba-tiba timbul setelah mengetahui bahwa dirinya menderita hepatitis B.

 

2. Keluhan dan gejala baru timbul bila virus hepatitis B di tubuh kita mulai menyerang organ hati.

Hal ini bisa diketahui lewat pemeriksaan darah, yaitu memeriksa ada tidaknya gangguan fungsi liver.

Parameter yang diperiksa terutama adalah SGOT dan SGPT, yang bila dianggap perlu oleh dokter dapat dilengkapi dengan parameter fungsi liver yang lain seperti alkali fosfatase, gamma GT, bilirubin (derajat kuning darah), albumin, PT-APTT (faktor pembekuan) dll.

 

 

APA KELUHAN DAN GEJALA HEPATITIS B KRONIS?

 

1. Bila sudah terjadi gangguan fungsi hati, pada awal penyakit biasanya keluhan bersifat tidak spesifik untuk gangguan liver; misalnya lemah badan, mudah lelah, lesu, mual, kembung, dan berbagai keluhan ringan lain.

Keluhan ini sulit dibedakan dengan keluhan akibat penyakit lain. Bila penyakit terus berkembang tanpa diobati, keluhan dan gejala bisa menjadi makin berat, dan akhirnya berakhir dengan sirosis, bahkan kanker hati.

 

2. Bila terdapat keluhan-keluhan seperti mual, kembung, rasa tidak enak di perut, atau keluhan lain tapi fungsi livernya masih normal, kemungkinan besar hal ini bukan akibat infeksi hepatitis B kronis. Dokter perlu mengevaluasi lebih lanjut apa penyebabnya, dan memberikan terapi yang sesuai. 

 

 

 

APAKAH HEPATITIS B KRONIS BISA SEMBUH? 

 

Bila sembuh dalam artian HBsAg nya menjadi negatif, agak sulit. Kadang pengobatan dengan obat-obat antivirus selama bertahun-tahun saja sulit mengkonversi HBsAg menjadi negatif.

Tujuan pengobatan adalah mencegah gangguan fungsi liver yang menyebabkan berbagai keluhan dan gejala, dengan target utama menurunkan risiko agar tidak berkembang menjadi penyakit sirosis dan kanker hati di kemudian hari. 

 

 

 

BILA TIDAK BISA MENJADI NEGATIF, BAGAIMANA BILA HENDAK MENCARI KERJA ATAU PINDAH PEKERJAAN? 

 

1. Pekerja dengan status HBsAg yang positif, sebaiknya tidak berpindah-pindah pekerjaan, apalagi bila sudah pegawai tetap. Perusahaan tidak berhak mengeluarkan pegawainya yang menderita hepatitis B kronis, malah berkewajiban mendorong pasien dan keluarganya untuk berkonsultasi ke dokter. 

 

2. Tapi perusahaan boleh saja tidak menerima calon pegawai yang memiliki HBsAg positif, karena berbagai pertimbangan, baik kesehatan maupun finansial.

Saat ini, pemeriksaan status HBsAg semakin sering menjadi bagian dari MCU pada saat penerimaan calon pegawai. 

 

3. Kesulitan mencari kerja memang merupakan salah masalah dari mereka dengan HBsAg yang positif.

Tapi perlu diingat, bahwa kesehatan merupakan hal yang tidak ternilai harganya, bagi yang bersangkutan maupun seluruh keluarganya.

Pasien hepatitis B kronis harus lebih memfokuskan perhatiannya pada upaya pencegahan komplikasi sirosis dan kanker hati di kemudian hari.

Berwirausaha merupakan salah satu pilihan dan alternatif yang perlu didiskusikan bersama keluarga.

 

 

 

APAKAH KARYAWAN DENGAN HBsAg YANG POSITIF PERLU MENDAPAT PERLAKUAN KHUSUS DI TEMPAT KERJA? 

 

Karena penularan terutama hanya melalui darah dan cairan tubuh (hubungan seksual), perusahaan tidak perlu memberikan perlakuan khusus, misalnya memisahkan tempat makan dan memberikan ruangan khusus.

Pasien HBsAg positif yang mendapat kontrol secara berkala ke dokter dan mendapat pengobatan yang adekuat, dapat bekerja normal dan meraih prestasi yang baik seperti teman-teman kerjanya yang lain. 

 

 

 

APAKAH PASIEN HBsAg POSITIF HARUS MENDAPAT TERAPI SECEPATNYA? 

 

Sekali lagi, tujuan pengobatan pada pasien dengan HBsAg positif adalah mencegah gangguan fungsi liver yang menyebabkan berbagai keluhan dan gejala, dengan target utama menurunkan risiko agar tidak berkembang menjadi penyakit sirosis dan kanker hati di kemudian hari.

Pengobatan penderita hepatitis B kronis tidak perlu terburu-buru, dan ada beberapa pemeriksaan lain yang perlu dilengkapi. 

 

 

 

MENGAPA TIDAK PERLU SEGERA MENDAPAT OBAT? 

 

1. Pertama, karena dibutuhkan waktu yang cukup lama dari mulai HBsAg positif sampai menjadi sirosis dan kanker liver.

Dibutuhkan antara 10-15 tahun dari hepatitis B kronis sampai menjadi sirosis, dan 10-15 tahun lagi dari sirosis sampai menjadi kanker liver; itu pun bila tidak mendapat pengobatan sama sekali.

Terapi saat ini memiliki angka keberhasilan yang cukup tinggi, ditambah lagi banyak obat dan metode pengobatan baru yang terus dikembangkan.

 

2. Kedua, adalah dalam hubungannya dengan keberhasilan pengobatan.

Terapi antivirus hepatitis B biasanya baru diberikan pada saat fungsi liver sudah mulai terganggu.

Bila fungsi liver, terutama SGOT dan SGPT sudah meningkat, berarti virus hepatitis B sudah mulai menyerang dan merusak liver. Pada kondisi ini, pengobatan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik.

 

3. Sebaliknya, bila fungsi liver masih normal, berarti virus belum menyerang hati; atau kemungkinan yang kedua adalah daya tahan tubuh pasien yang belum terlalu baik. Bila antivirus diberikan pada kedua kondisi ini, pengobatan biasanya kurang berhasil.

Selain itu, pemberian antivirus yang terburu-buru meningkatkan risiko obat menjadi resisten, terutama bila putus obat.

Padahal, jenis obat-obat antivirus hepatitis B ini jumlahnya terbatas, harganya cukup mahal, dan lama pengobatan juga cukup panjang. 

 

 

 

 

APA SAJA PEMERIKSAAN YANG HARUS DILENGKAPI? 

 

Selain obatnya yang cukup mahal, salah satu kendala lain dari pengelolaan pasien dengan hepatitis B kronis adalah biaya berbagai pemeriksaan lain yang juga cukup mahal. Ada beberapa data tambahan yang harus diketahui dokter pada saat konsultasi.

Beberapa pemeriksaan penting yang perlu diketahui antara lain: 

 

1. HBeAg 

2. HBV-DNA 

3. Hepatitis C 

4. Ultrasonografi  

 

 

 

 

PEMERIKSAAN HBeAg 

 

HBeAg merupakan singkatan dari Hepatitis B-e Antigen, merupakan pemeriksaan darah untuk menentukan aktif tidaknya virus yang ada di tubuh pasien.

Bila pasien hepatis B kronis (HBsAg positif) memiliki HBeAg yang juga positif, artinya virus di dalam tubuhnya aktif bereplikasi (memperbanyak diri), dan karenanya risiko penularan juga menjadi lebih tinggi.

Kemungkinan terjadinya gangguan fungsi hati juga menjadi lebih besar.

Pasien ini harus difollow-up lebih sering karena risiko sirosis juga lebih tinggi. Biaya pemeriksaan HBeAg berkisar antara Rp 600 ribu s/d Rp 900 ribu, dan biasanya perlu diulang untuk evaluasi terapi. 

 

 

 

PEMERIKSAAN HBV-DNA 

 

Pemeriksaan HBV-DNA adalah pemeriksaan kuantitatif untuk menentukan jumlah virus hidup yang ada di darah pasien dengan HBsAg positif.

Semakin tinggi nilainya, berarti semakin banyak virus yang ada di dalam tubuh pasien.

Ada nilai tertentu dari pemeriksaan HBV-DNA yang menjadi patokan dokter untuk perlu tidaknya segera memulai terapi antivirus, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lainnya.

 

Pemeriksaan darah ini sangat penting dan bermanfaat, sayangnya biaya pemeriksaannya cukup mahal, berkisar antara Rp 1,8 s/d Rp 2,5 juta setiap kali periksa.

Selain itu, pemeriksaannya juga perlu berkali-kali selama follow-up, karena data ini diperlukan untuk menilai keberhasilan terapi dengan melihat penurunan jumlah virus sampai tidak terdeteksi lagi di dalam darah.  

 

 

 

PEMERIKSAAN VIRUS HEPATITIS C 

 

 

Karena penularan hepatitis B dan C sama-sama melalui darah dan cairan tubuh, ada baiknya pasien dengan HBsAg positif juga memeriksakan virus hepatitis C.

Walaupun angka kejadiannya lebih jarang dibandingkan hepatitis B, beberapa pasien memiliki ko-infeksi hepatitis B dan hepatitis C. Pada kasus ini, terapinya lebih sulit dan lebih kompleks, dan tidak jarang memerlukan konsultasi ke dokter sub-spesialis.

 

Pemeriksaan hepatitis C (anti-HCV) cukup diperiksa satu kali saja di awal konsultasi, dan biayanya berkisar antara Rp 150-600 ribu sekali periksa (tergantung jenisnya, mulai Rapid Test dari darah yang ekonomis sampai pengambilan sampel darah yang lebih banyak untuk hasil yang lebih akurat atau kuantitatif). 

 

 

PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI 

 

1. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) adalah pemeriksaan pencitraan dengan menggunakan alat seperti memeriksa kandungan pada ibu hamil.

Dari pemeriksaan USG ini bisa diperoleh informasi mengenai anatomi dan kelainan struktur hati, mulai ada tidaknya perlemakan liver, hepatitis kronis, ada tidaknya batu di empedu, dan berbagai kelainan lain yang penting dalam pengelolaan hepatitis B di kemudian hari.

 

2. Bila hasilnya normal, pemeriksaan USG ini juga bisa menjadi baseline (data awal) yang nantinya diperlukan dokter untuk follow-up dan evaluasi terapi pasien di kemudian hari. Biasanya pemeriksaan USG bisa diulang tiap 2-3 tahun bila tidak ada keluhan khusus. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat, non-invasif, tidak ada efek samping atau paparan radiasi, pemeriksaannya cepat, dan hasilnya pun segera diperoleh.

Biayanya berkisar antara Rp 500 s/d 800 ribu. 

 

 

 

 

APA SAJA JENIS OBAT YANG DIMINUM PENDERITA HEPATITIS B? 

 

Penderita yang menurut dokter sudah waktunya diobati, akan diberikan obat antivirus guna mengurangi jumlah virus di dalam tubuh, menurunkan risiko kerusakan hati, dan mencegah komplikasi jangka panjangnya.

 

Saat ini di dunia terdapat 7 obat yang disetujui untuk digunakan mengelola pasien dengan hepatitis B kronis.

Dua obat merupakan obat suntik, dan lima obat bisa diminum.

Lama pengobatan minimal 6 bulan sampai 1 tahun, bahkan bisa lebih tergantung kondisi klinis dan pertimbangan dari dokter yang mengelolanya.

 

Berapa biayanya? Sangat bervariasi, berkisar antara 500 ribu sampai 1-2 juta per bulannya untuk obat tablet, dan 1-2 juta per minggunya untuk obat yang disuntik.

Karena efek sampingnya yang banyak dan harganya yang mahal, serta sudah banyaknya obat-obat antivirus yang bisa diminum, obat-obat suntik biasanya hanya diberikan pada kondisi-kondisi khusus setelah berkonsultasi dengan dokter sub-spesialis hepatologi.  

 

Obat antivirus tidak digunakan dengan tujuan menghilangkan total seluruh virus hepatitis B atau sampai HBsAg menjadi negatif.

Obat terutama diberikan untuk mencegah perkembangan virus dan mencegah komplikasi.

Oleh karena itu, penderita hepatitis B kronis perlu melakukan kontrol secara berkala ke dokter untuk melihat perkembangan penyakit, mengevaluasi pengobatan, dan mendeteksi dini komplikasi yang mungkin sudah terjadi.

  

 

 

APAKAH ADA PANTANGAN KHUSUS BAGI PENDERITA HEPATITIS B KRONIS? 

 

1. Bila fungsi liver masih normal, tidak ada pantangan khusus pada makanan atau minuman yang dikonsumsi maupun aktivitas yang bisa dilakukan. 

 

2. Biasakan makan makanan yang sehat, jangan berlebihan jumlahnya, terutama yang terlalu manis, terlalu asin, dan tinggi lemak. Hindari terlalu sering jajan makanan/minuman dengan banyak pengawet, atau yang diproses dengan minyak yang sudah lama, dan kurangi konsumsi beras-sayuran-buah-buahan berpestisida. Semuanya mengandung radikal bebas yang bisa merusak tidak hanya organ hati, tapi juga organ-organ yang lain. Batasi makan junk-food dan minum soft-drink, yang membebani tubuh khususnya liver yang merupakan organ eksresi utama selain ginjal.  

 

3. Biasakan juga berpuasa, baik puasa sunnah (Senin-Kamis atau puasa Sunnah lain), dan puasa intermittent. 

Tidak makan selama 14-16 jam setiap harinya dapat memberikan waktu untuk organ-organ pencernaan termasuk liver untuk beristirahat dan memperbaiki sel-sel yang rusak. 

Puasa juga sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh melawan berbagai infeksi, termasuk infeksi akibat virus hepatitis B. 

 

3. Hindari hidup yang santai dan kurang gerak. Banyak bergerak dan olahraga teratur juga sangat baik untuk liver dan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 

 

4. Satu lagi kiat praktis yang mudah dijalankan, yaitu mengganti air mineral yang biasa kita minum dengan air alkali kaya hidrogen, yang terbukti aman selama lebih dari 50 tahun dan tidak hanya bermanfaat untuk berbagai penyakit liver, tapi juga sangat baik untuk kesehatan secara umum.

Ada penelitian khusus tentang manfaat air hidrogen pada pasien-pasien hepatitis B kronis, yang dilaporkan para peneliti dari Center for Clinical Laboratory of Forth People’s Hospital of Huai’an, & The Second Military Medical University, Shanghai, China.

Penelitian ini dimuat di Jurnal Clinical and Translational Science tahun 2013, dengan judul “Effect of hydrogen-rich water on oxidative stress, liver function, and viral load in patients with chronic hepatitis B” (Efek air kaya hidrogen pada stres oksidatif, fungsi liver, dan jumlah virus pada pasien dengan hepatitis B kronis).

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24127924

Para peneliti menyimpulkan bahwa air kaya hidrogen mengurangi stres oksidatif pada pasien-pasien hepatitis B kronis, dan studi lebih lanjut dalam jangka panjang diperlukan untuk mempelajari efek dari air kaya hidrogen pada fungsi liver dan HBV-DNA. 

 

PANDUAN DI ATAS ADALAH PEDOMAN UMUM SAJA, YANG BISA JADI INFORMASI AWAL UNTUK SEBAGIAN BESAR PASIEN DENGAN HBsAg YANG POSITIF 

Ada kondisi-kondisi khusus, dimana diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis dalam konsultan penyakit saluran cerna dan liver (internist-gastroenterohepatologis) dan pemeriksaan tambahan yang lebih canggih; misalnya pada penderita dengan daya tahan tubuh yang buruk, pasien geriatri (lanjut usia), pasien HIV AIDS, mereka yang yang menjalani cuci darah rutin, dan pasien-pasien lain. Pada kondisi khusus ini, biasanya dokter spesialis dalam akan berkonsultasi atau merujuk pasien ke dokter sub-spesialis yang biasa menangani kasus-kasus infeksi hepatitis B yang lebih kompleks.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh :

 

 

 

 

 

 

6 penyakit silent killer