Herd Immunity

 

 

  

 

Sehatkan Diri Menghadapi Herd Immunity  

 

Di masa pandemi Covid 19 ini, beberapa strategi diterapkan oleh pihak berwenang di seluruh dunia. Mulai dari lock down, karantina wilayah, social distancing, yang di Indonesia dikenal dengan istilah PSBB (Pembatasan Sosiaal Berskala Besar). Berhasilkah semua itu? Untuk meredakan masalah mungkin berhasil. Setidaknya gelombang jatuhnya meledaknya populasi penderita bersamaan di satu waktu bisa diredam. Tapi untuk menyelesaikan jelas tidak. Vaksin untuk Covid 19 belum ditemukan. Semua menjadi berada di posisi tidak pasti.  

Sementara dalam kehidupan, roda terus berputar. Kebutuhan ekonomi tetap harus dipenuhi. Kebutuhan fungsional dan sosial membuat manusia sadar tidak mungkin kondisi ini diperlakukan terus menerus, ada yang harus dilakukan untuk tetap bisa bertahan hidup. Di sinilah pendekatan tentang Herd Immunity mulai digaungkan banyak pihak. Apa sih itu?

 

 

Herd Immunity  

 

Kata Herd diambil dari kebiasaan mahluk hidup kelas mamalia untuk membentuk semacam kawanan, komunitas yang acap berkumpul karena memiliki kesamaan tertentu atau semacam ikatan fungsional sosial. Kata Immunity sendiri kita sudah banyak tahu, dikaitkan dengan ketahanan, dalam hal ini adalah daya tahan tubuh. Jadi kombinasi kedua kata ini menghasilkan definisi kumpulan manusia yang memiliki ketahanan tubuh sama. Apa yang sama? Dalam kondisi kekinian hal ini jelas mengacu pada keberadaan virus Corona.

Pemahaman ini dimungkinkan karena manusia sejatinya dikenal memiliki sistem imun yang kompleks dan sebenarnya luar biasa canggih. Terkait virus, bila ia memasuki tubuh akan muncul beragam macam reaksi perlawanan. Mulai dari upaya pelumpuhan cepat, observasi, pengiriman informasi ke otak, analisa, pengecekan data, pencarian penangkal, pengiriman, perang lanjutan, virus dilumpuhkan, dilucuti, dibuang dari tubuh, hingga rekaman dalam memori apabila virus serupa datang lagi di masa depan. Kalimat terakhir menjadi kata kunci dari herd immunity ini. Hal sama juga menjadi dasar terciptanya obat bernama vaksin yang digunakan untuk mempercepat reaksi di atas dalam menghadapi serbuan virus. 

Herd immunity adalah kondisi di mana sekumpulan orang diharapkan berhasil mengandalkan daya tahan alaminya menciptakan penangkal virus tertentu. Sehingga mereka bisa menjalani hidup normal.

 

 

 

Tubuh Sehat Daya Tahan Kuat 

 

Secara teknis konsep tersebut terkesan ideal. Hanya saja kita sering melupakan, sistem kekebalan tersebut membutuhkan kontainer atau penampung yang fundamental, tubuh yang sehat. Harus ada sistem yang sehat, berjalan sempurna. Sistem komunikasi antara bagian tubuh, sistem penyimpanan data yang rapi, sistem pembuatan penangkal yang berfungsi dan lain sebagainya.

 

Kesehatan masing-masing organ juga harus berjalan sesuai tugasnya. Hanya tubuh sehat yang memenuhi syarat. Bila semua cocok dengan ketentuan, baru kita bisa berharap pada konsep herd immunity tadi. 

Sayangnya secara global dunia kesehatan yang kita kenal saat ini tidak mendukung edukasi dan pengaplikasian budaya pemeliharaan. Tubuh dipelihara agar tidak sakit dan terus sehat lewat apa yang dilakukan sehari-hari menjadi konsep yang asing dan ditinggalkan.

Kita terbiasa menjadi sakit dulu lalu memikirkan apa yang harus dilakukan kemudian. Mengobati! Dunia kesehatan kita mengembangkan paham serta siklus yang canggih serta luar biasa mahal untuk berkonsentrasi pada pengobatan penyakit. Saat satu penyakit ditemukan, konsentrasi utamanya adalah bagaimana cara mengobatinya? Bukan bagaimana cara mencegah atau memaksimalkan sistem pertahanan tubuh yang ada dalam badan. 

Konsep herd immunity akan mentah bila kita dihadapkan pada individu yang kesehatannya lemah akibat akumulasi gaya hidup yang tidak terawat. Orang seperti ini jelas akan menjadi korban.

Di sisi lain perjalanan usia juga bisa menjadi faktor lemah bagi mereka yang ikut dalam konsep filterisasi herd immunity. Semakin tua manusia, semakin lemah tubuhnya, semakin tidak fungsional sistem dan organ yang ada di dalamnya. Ini sebabnya dalam pandemi Covid 19, manusia usia lanjut acap menjadi korban terbanyak. Ada negara yang bahkan pihak otoritas kesehatan menolak menangani pasien Covid 19 berusia lanjut karena pasien mereka sudah sangat membludak. 

Dari sini semoga kita bisa memahami bahwa herd immunity bisa dijalani bila kita memiliki tubuh yang sistem pertahanannya kuat. Dan sistem seperti itu, tidak bisa tidak, hanya bisa dimiliki oleh tubuh yang sehat.

Tanpa itu, menjalani herd immunity bisa dianalogikan seperti maju bertaruh nyawa ke medan perang bermodalkan sendok sayur sebagai senjata dan tutup panci sebagai perisai.

  

 

 

 

Menjadi Sehat 

 

Menoleh kepada kata sehat, kita akan bertanya “Bagaimana caranya?” Di sini isu utama justru muncul. Bertahun-tahun dunia kesehatan menerlenakan kita dengan konsep sehat yang salah.

Banyak sekali dari kita yang percaya pada doktrin, Health is the absence of sickness atau “Sehat itu adalah saat tidak ada penyakit”. Sepintas tidak ada yang salah dari kalimat tersebut. Tapi sejatinya akar bencana justru muncul dari sana. 

Kita membiasakan diri kita menjadi sakit terlebih dahulu lalu mencari obat atau tindakan medis apa yang harus dilakukan untuk melenyapkan penyakit tersebut.

Bertahun kita terbiasa dengan hal ini, dan alpa mempelajari atau membangun kebiasaan yang sejatinya membuat sehat. Konsep yang dibiasakan ini terbukti fatal saat kita berhadapan dengan kondisi pandemi penyakit yang belum ada obatnya. Kita paham jatuh sakit untuk penyakit berat yang belum ada obatnya, potensial menyebabkan kematian, dalam jumlah besar. 

Mulailah untuk serius mengubah ini semua. Mulai dari diri sendiri untuk memiliki komitmen dan disiplin agar menjadi sehat. Mulai mempelajari cara bagaimana menjadi sehat? Mulai mengeliminir kebiasaan yang menjauhkan tubuh dari sehat. Mulai merangkul kebiasaan yang sejatinya membuat sehat.

 

Makanan dan minuman adalah faktor penyambung hidup kedua yang utama setelah bernafas. Sejatinya kesehatan kita sangat terkait pada apa yang kita minum.

Sejalan dengan apa yang kita berusaha mulai, rangkul kebiasaan makan dan minum sehat. Pastikan itu benar sehat, bukan sekedar disangkakan bisa membuat sehat.

Mereka yang menganut pola makan alami seperti Food Combining, Raw Food, Plant Based Diet, Alkaline Diet, Vegetarian, dan sejenisnya terbukti saat dilakukan benar memiliki kesehatan yang prima, tidak mudah jatuh sakit, awet muda, serta memiliki kualitas hidup yang baik. Garis bawahi lagi kalimat ‘saat dilakukan benar’. Tiru apa yang mereka lakukan, adopsi dalam keseharian.  

 

Pelajari apa resikonya mengkonsumsi makanan-minuman yang merusak kesehatan. Ketahui apa efek buruk yang dialami badan saat kita membiasakan hal-hal buruk bagi kesehatan ada dalam keseharian, minum teh atau kopi di pagi hari, sarapan roti, membanjiri menu sehari-hari dengan protein hewani, akrab dengan makanan sampah cepat saji, dan lain sebagainya.

Semakin berat dan merusak makanan yang kita masukkan ke tubuh, semakin berat juga tubuh memprosesnya. Energi yang diperlukan luar biasa besar. Apa yang terlemahkan dengan keluarnya energi besar tersebut? Ya, salah satunya adalah daya tahan. 

Bila kita ibaratkan herd immunity ini sebagai medan perang. Mari hadapi dengan kondisi benar. Bukan cuma sekedar mengandalkan masker atau mempersering cuci tangan, tapi siapkan hal yang lebih esensial. Maju ke medan perang dengan kondisi terkuat dan senjata terhebat. Itu semua ada dalam tubuh yang sehat. Maka jadilah orang yang sehat.