Puasa Dan Stress

 

 

 

 

Banyak sekali penelitian yang menunjukkan manfaat puasa pada pengelolaan stres, mulai perbaikan mood, gangguan kecemasan, hingga depresi.

 

 

 

 

MANFAAT PUASA PADA GANGGUAN MOOD 

Mood didefinisikan sebagai kondisi pikiran atau perasaaan yang sifatnya sementara (a temporary state of mind or feeling). Banyak penelitian yang menunjukkan puasa memiliki efek positif pada mood seseorang.

Fasting in Mood Disorders: Neurobiology and Effectiveness. A Review of the Literature. Psychiatry Research, 2013.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23332541/

Penelitian di atas melakukan studi literatur terhadap 92 penelitian tentang puasa pada gangguan mood, dan diperoleh banyak informasi menarik.

Pertama, sebuah penelitian awal di tahun 1970 melaporkan tingkat remisi hingga 86% pada pasien-pasien depresi yang menjalankan 10 hari puasa yang cukup ketat.

Kedua, puasa pada sukarelawan sehat ataupun mereka dengan berbagai masalah kesehatan (irritable bowel syndrome atau nyeri kronis) menunjukkan adanya peningkatan tingkat energi, perbaikan mood, dan menurunnya berbagai gejala depresi dan ansietas (kecemasan).

Ketiga, studi pada sukarelawan muslim yang menjalani puasa Ramadhan (intermittent fasting), menunjukkan adanya penurunan ansietas, dan pada pasien-pasien dengan gangguan bipolar, penurunan baik keluhan manik maupun depresinya.

Secara umum disimpulkan bahwa banyak observasi klinis yang menghubungkan efek dini (antara 2-7 hari) dari puasa terhadap berbagai keluhan depresi, dengan perbaikan mood, kewaspadaan, dan rasa tenang yang dilaporkan oleh pasien-pasien yang berpuasa (improvement in mood, alertness and a sense of tranquility).

 

 

 

 

MANFAAT PUASA PADA ANXIETAS (KECEMASAN) 

 Gangguan kecemasan adalah timbulnya rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dan tidak terkendali terhadap berbagai hal dan kondisi. Keadaan ini seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya, maupun hubungan penderita dengan orang di sekitarnya. 

Apakah puasa bermanfaat pada gangguan kecemasan?

Acute fasting inhibits central caspase-1 activity reducing anxiety-like behavior and increasing novel object and object location recognition. Metabolism, 2017.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5439304/

Penelitian di atas menyimpulkan bahwa puasa dapat menurunkan perilaku cemas sekaligus memperbaiki memori di otak pada binatang percobaan.

Decreased Anxiety After Dawood Fasting in the Pre-Elderly and Elderly. J Complement Integr Med, 2018.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30312161/

Penelitian yang dilakukan di Indonesia pada 48 sukarelawan sehat, menunjukkan bahwa puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak berpuasa) selama 22 hari terbukti menurunkan kecemasan secara signifikan pada pasien lansia dan pra-lansia.

 

 

 

 

EFEK PUASA PADA DEPRESI 

Depresi adalah masalah medis yang sering terjadi, dan secara negatif mempengaruhi perasaan, pola pikir, dan tindakan kita. Ini merupakan penyakit serius yang bisa menyebabkan berbagai gangguan emosional dan fisik, dan menurunkan secara bermakna kemampuan seseorang berfungsi di rumah maupun tempat kerja.

Puasa memiliki banyak manfaat langsung ataupun tidak langsung pada berbagai gejala depresi.

Intermittent fasting and caloric restriction ameliorate age-related behavioral deficits in the triple-transgenic mouse model of Alzheimer’s disease.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0969996106003251

Meal Size and Frequency Affect Neuronal Plasticity and Vulnerability to Disease: Cellular and Molecular Mechanisms
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12558961/

Intermittent metabolic switching, neuroplasticity and brain health
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5913738/

Pertama, melalui efeknya terhadap BDNF, atau Brain-Derived Neurotrophic Factor. Pada studi di salah satu bagian Psikiatri di RS Korea Selatan, kadar BDNF menurun pada pasien-pasien depresi. Pengobatan dengan obat anti-depresan terbukti dapat meningkatkan kadar BDNF, yang sangat penting pada pembentukan dan elastisitas jaringan saraf, yang tentunya terlibat pada penyakit depresi. Studi di jurnal Neurobiology of Disease tahun 2007 menunjukkan bahwa BDNF meningkat kadarnya hingga 50-400% pada binatang percobaan yang dilakukan puasa selang sehari.

Kedua, melalui efeknya terhadap ghrelin, yang juga dikenal sebagai hormon lapar (hunger hormone), yang diproduksi oleh saluran cerna kita. Kadarnya meningkat pada saat kita merasa lapar, dan kadarnya yang tinggi diasosiasikan dengan mood yang lebih baik. Menurut penelitian di Journal Molecular Psychiatry, ghrelin merupakan natural antidepresan yang juga meningkatkan neurogenesis (perkembangan sel saraf), dan kadarnya terbukti meningkat secara bermakna selama kita berpuasa.

Karena manfaatnya yang bermakna pada depresi, puasa bahkan diwacanakan digunakan sebagai salah satu modalitas terapi kelainan utama di bidang psikiatri ini.

The Effects of Calorie Restriction in Depression and Potential Mechanisms. Current Neuropharmacology, 2015.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4790398/

Efektivitas antidepresi dari pembatasan kalori pada depresi telah dibuktikan pada berbagai ujicoba eksperimental dan memberikan efek yang menjanjikan sebagai salah satu strategi terapi mengelola kelainan ini. 

 

Semoga bermanfaat. 

 

Berbagai tulisan lain seputar puasa intermittent bisa dipelajari lebih lengkap di link berikut ini:

 

 

 

Penjelasan puasa intermittent