Roti

 

 

Memulai hari dengan makan roti, sudah bertahun-tahun diedukasikan secara informal sebagai bentuk sarapan ideal. Rasa roti yang lembut dan memberikan sensasi manis serta tercampur rasa gurih saat dikunyah, menyajikan sensasi kenikmatan tersendiri.

 

Tapi itu semua hanyalah sensasi yang terjadi di sekitar mulut, lebih tepatnya beberapa bagian dari indera utama pengecap, lidah. Tepung terigu yang umum menjadi bahan utama roti adalah bahan yang kehilangan banyak nilai gizi saat diproses. Tubuh akan dirusak oleh oksigen berlebih, karena roti adalah makanan dipanaskan dan kadang ditambahkan minyak dengan kualitas kurang baik. Kandungan gula darah juga mudah meroket dipicu oleh tingkat gula pada roti serta minimnya serat. Ini berita buruk bagi penderita penyakit degeneratif seperti diabetes atau penderita kerusakan sel yang potensial memanfaatkan kelebihan gula seperti kanker.

Usus besar juga rentan menumpuk kotoran karena sifat lengket dari Gluten, substansi berbasis protein yang ada dalam kandungan terigu. Tidak hanya di usus besar, Gluten akan menempel pada sepanjang dinding usus, menutupi elemen penting seperti lubang-lubang halus di sana dan kehilangan fungsi. Saat terserap darah pun, gluten akan memberikan banyak efek negatif bagi tubuh

Roti yang diklaim bebas gluten juga bukan berarti bisa menjelma menjadi makanan sehat. Bahannya yang berbasis refinasi (refine) umumnya telah teroksidasi, terproses lama yang tidak bisa dikategorikan baik bagi badan. Sesuatu yang disehat-sehatkan jelas tidak bisa dikatakan sehat.

 

Kita harus mengingat konsep sederhana, berikan makanan rutin pada tubuh yang menghadirkan banyak manfaat serta seminim mungkin masalah. Rutin atau apa yang dilakukan sehari-hari adalah kata kuncinya. Mengkonsumsi makanan minim manfaat kaya akan masalah, seperti roti, akan lebih baik bila hanya hadir sesekali

Makanan enak tidak substansial seperti roti, seharusnya ditempatkan sebagai hidangan sosial. Santaplah sesekali. Bukan rutin setiap hari