Sistem Pencernaan Manusia

   

 

 

Ditulis oleh :

 

 

 

 

Sistem Cerna Manusia  

 

Sebagai anggota mahluk hidup, manusia dikenal sebagai Omnivora, pemakan segala. Penengah antara Herbivora, pemakan tumbuhan, dan Karnivora, pemakan daging. Dengan itu manusia dikategorikan mampu mengkonsumsi tumbuhan dan daging untuk bertahan hidup. Tapi benarkah demikian? Apakah kehidupan itu dijalani hanya dalam level ‘dipertahankan’ atau bisa dimaksimalkan kualitasnya? 

Dari sini kita bisa menelaah sifat sejati sistem cerna kita. Dimulai dari susunan gigi semisal. Manusia lebih condong ke mana? Gigi karnivora atau gigi herbivora? Ternyata gigi manusia didominasi oleh pengancur dan penghalus, sementara gigi perobek seperti seorang karnivora sangat minim. Berarti makanan manusia ditinjau dari karakter gigi, lebih cocok diarahkan ke sisi herbivora. 

Sistem yang berlaku di lambung juga bisa mengacu pada hal sama. Saat makanan berbasis daging-dagingan masuk, lambung akan bereaksi sangat agresif. Produksi asam lambung akan menjadi sangat banyak. Selain untuk membunuh kemungkinan jasad renik masuk, produksi enzim pencerna protein hewani juga disusupkan di sana. Sebaliknya saat makanan manusia condong ke tumbuhan atau karbohidrat yang benar, kerja lambung relatif lebih santai. 

Hal sama terulang di sisi panjang usus. Usus manusia sangat kompleks dan relatif panjang. Ini tidak sesuai dengan panjang usus hewan karnivora yang rata-rata pendek, dan tentunya sesuai dengan karakter usus hewan herbivora. Hal ini tentu terkait erat dengan materi apa yang cocok dijadikan makanan. Kedua contoh ini akan kita bahas lebih jauh lagi di bagian tulisan berikutnya. 

Memilih makanan yang tepat tentu membuat sistem cerna terawat dengan baik, relatif sedikit menimbulkan masalah dan di sisi lain berlimpah segudang manfaat. Sebaliknya saat makanan kita salah, sistem cerna akan mengalami masalah. Problem berantai akan dikirim ke seluruh tubuh. Hidup kita pun tentunya akan menjadi terganggu. 

Sejatinya dengan menjadi vegetarian dan meminimalisir atau bahkan meniadakan, daging-dagingan, kita bisa memisahkan antara sekedar bertahan hidup dan memilih untuk memiliki kualitas hidup. 

 

 

 

 

Sesuai Dengan Kodrat Organ 

 

Tren makan sehat yang mengacu pada kerja alamiah sistem cerna ini semakin kuat. Baru-baru ini perusahaan hiburan tontonan terkemuka, Netflix, memproduksi film Game Changer sebuah cerita dokumenter lumayan panjang tentang beberapa atlit yang memiliki prestasi fenomenal, tapi sejatinya mereka adalah pelaku vegetarian. Beberapa bahkan mengaku memiliki prestasi lebih baik pasca mereka mengubah pola makan. Untuk lebih meyakinkan mantan binaragawan juara dunia dan aktor legendaris Arnold Schwarzeger dijadikan sebagai pembawa acara. Pun ia mengatakan kesehatannya menjadi jauh lebih baik secara signifikan pasca berubah menjadi vegetarian. 

Hal ini tidak mengherankan. Sesuai dengan sistem cerna manusia, sifat organ yang terkait sistem cerna juga mengalami perbaikan drastis atau terawat baik, bila pola makan kita sesuai dengan kodrat. Semua organ! Kualitas darah pelaku vegetarian yang baik, tentu bebas penyumbatan, karena makanan mereka kaya antioksidan. Sehingga tubuh tidak memiliki alasan melapisi pembuluh darah dengan kolesterol lengket. Resiko pengentalan juga relatif tidak ada, lemak hewan yang mayoritas suhunya di atas tubuh manusia, tidak akan membeku dan menurunkan kualitas darah saat daging dikonsumsi. Semau tidak terjadi karena tidak ada protein hewani yang dimakan. Dan banyak hal positif lain muncul saat tubuh dipatuhi ketentuannya lewat apa yang masuk di mulut serta perut. 

Beberapa penyakit juga bisa tercegah atau bahkan tersembuhkan dengan mematuhi ketentuan vegetarian. Problem lambung, dari sekedar produksi asam lambung berlebih, luka pada dinding, hingga GERD yang lebih serius, bisa tersembuhkan dengan baik. Mengapa? Salah satu alasan terkuat, mereka yang mengkonsumsi karbohidrat dalam bentuk tumbuhan, potensial memproduksi asam lambung dalam jumlah sesuai kebutuhan. Tidak berlebihan seperti mereka yang mengkonsumsi protein hewani atau makanan prosesan. Di mana sekresi, pengeluaran, enzim cerna protein disusupkan ke dalam produksi asam lambung. Makin banyak Anda makan daging, makin tinggi produksi asam lambung. 

Hal sama berlaku bagi mereka yang mengalami masalah konstipasi. Fakta bahwa protein hewani miskin serat dan cenderung menyusut saat bertemu asam lambung adalah hal tak terelakkan yang mengatakan bahwa manusia akan sulit buang air besar, bila makanan hariannya sarat dengan daging-dagingan. Belum bicara sisi panjang usus manusia yang terlalu jauh jarak tempuhnya bagi masa pembusukan protein hewani yang relatif cepat. Itu sebabnya penderita penyakit super serius seperti kanker juga sangat terbantu dengan mengadopsi pola vegetarian atau vegan dengan cara benar. Karena penumpukan sampah dalam tubuh, terutama sel mereka bisa dihindari. Juga asupan kaya antioksidan yang dilimpahkan aneka produk tumbuhan segar. Semua itu membuat perkembangan sel kanker menjadi tertekan dan sulit sekali berkembang. 

 

 

 

Mitos Malnutrisi 

 

Beberapa ketakutan diedarkan serta dialamatkan pada pelaku vegetarian, atau mereka yang mencoba mengadopsi banyak makan tumbuhan dan mengurangi daging-dagingan. Semisal kekurangan pasokan protein, juga kekurangan nutrisi penting seperti vitamin B12. Tanpa vitamin ini banyak masalah terjadi dalam tubuh. Semisal kerusakan sistem syaraf, anemia, gangguan usus, sembelit, diare, hingga keterlambatan perkembangan sosial komunikasi pada anak. Benarkah itu semua?  

Penelitian lebih jauh mendapati semua ini mayoritas hanya mitos yang ditiupkan karena pembahasan yang tidak komprehensif, lengkap. Semisal kekurangan protein bila tidak makan daging, adalah pembahasan yang sangat miskin sudut pandang. Tubuh tidak menyerap protein hewani begitu saja, ia memisahkan dulu dalam bentuk asam amino lalu dirangkai ulang sesuai kebutuhan. Karena asam amino protein hewani sangat kompleks, rangkai ulang ini rentan mengalami kesalahan, cacat, hingga potensial meninggalkan banyak residu terutama sampah dalam sel. Sedangkan asam amino pada protein nabati di produk vegetarian, relatif lebih sederhana, sehingga mudah dirangkai ulang oleh tubuh. Jadi protein pada tumbuhan walau kadarnya lebih rendah, tapi potensi serapnya jauh lebih tinggi dari protein hewani. Tinggal ketentuan cara makan tumbuhan ini yang harus ditegaskan, sebaiknya seperti apa? 

Hal sama berlaku di isu kekurangan vitamin B12. Produk protein hewani memang mengandung vitamin ini. Tapi sejatinya vitamin ini disintesis oleh bakteri dalam usus, sementara kita sudah membahas banyak mengkonsumsi daging justru merusak ekosistem bakteri dalam usus kita. Pendapat lain mengatakan proses sintesis ini terjadi di usus besar, sementara mayoritas penyerapan terjadi di usus halus. Lagi beberapa pendapat muncul menentang hal ini. Sebagian ahli mengatakan karena proses penyerapan pada usus besar juga masih terjadi, tubuh tetap dapat mendapatkan vitamin B12. 

Serunya penelitian pangan lokal di Indonesia menemukan proses fermentasi pada tempe membuat mikroba di dalamnya aktif memproduksi vitamin B12 yang bisa dimanfaatkan oleh tubuh manusia. Ini juga bisa jadi satu sumber informasi penyeimbang yang mematahkan tudingan pelaku vegetarian rentan malnutrisi, terutama vitamin B12. Selama kita mengkonsumsi tumbuhan dengan cara benar, menyantapnya segar serta ragamnya divariasikan dalam jumlah, bentuk, dan warna, semau mitos tersebut bisa dipatahkan. 

Konsep makan sayur yang benar seperti ini bisa juga menjadi acuan untuk mementahkan riset yang menyudutkan pelaku vegetarian. Ambil contoh kasus penelitian di India, semisal, yang mengatakan banyak kasus malnutrisi vitamin B12 di sana. Seperti kita tahu ragam kuliner di India tidak banyak menyediakan porsi sayuran segar. Beberapa malah diproses atau dipanaskan berlebihan. Bisa jadi ini juga penyebab bakteri penghasil vitamin tersebut tidak bisa hidup dengan baik dalam usus. 

Manusia memang omnivora, pemakan segala, tapi bila ditinjau secara lebih mendetil, manusa sejatinya lebih condong berada ke sisi herbivora, pemakan tumbuhan. Dan semakin usia kita menua, peluang kompensasi tubuh untuk mengkonsumsi makanan yang tidak sesuai juga semakin menurun. Makin tua, makan salah relatif lebih cepat menimbulkan masalah. Maka itu bila ingin sehat, jadilah pemakan tumbuhan yang baik dengan cara benar.

 

Animal VS plant based protein